Teknologi surya dan hubungan internasional

Teknologi energi surya adalah bidang studi yang menarik dan berkembang. Artikel-artikel baik dalam sains maupun berita arus utama seringkali menyoroti perkembangan terkini. Peristiwa penting selama setahun terakhir termasuk penemuan opsi pelapisan baru, desain struktural, metode penyimpanan, dan pilihan material yang semuanya bekerja untuk menciptakan sel surya yang lebih efisien dan terjangkau.

Tingkat minat terhadap energi alternatif ini seharusnya tidak mengejutkan. Di dunia sekarang ini, banyak orang dan masyarakat merasa prihatin dengan keadaan lingkungan. Untuk itu dibentuklah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Badan ilmiah ini berfokus pada risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim buatan manusia atau buatan manusia. Secara khusus, ia memiliki tugas untuk mengevaluasi risiko tersebut serta mengidentifikasi cara untuk mengatasinya. Sejumlah besar akademi ilmiah, masyarakat dan organisasi ilmiah lainnya mendukung kesimpulan IPCC.

Kekhawatiran lingkungan ini telah mendorong langkah-langkah di tingkat internasional untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Salah satu langkah tersebut adalah pembuatan Protokol Kyoto, yang mulai berlaku pada tahun 2005. Protokol ini menciptakan kewajiban yang mengikat secara hukum untuk mengurangi emisi berbahaya.

Perjanjian tersebut menggunakan sistem cap-and-trade dengan kredit karbon dan kuota emisi. Negara-negara yang termasuk dalam kuota emisi mereka dapat menjual kredit mereka. Ada juga peluang untuk mendapatkan kredit melalui berbagai proyek pembangunan. Proyek-proyek seperti itu sering berurusan dengan energi alternatif seperti energi matahari.

Dan sementara lebih dari 180 negara telah meratifikasi perjanjian itu, hanya Amerika Serikat yang menandatanganinya. Pernyataan yang dibuat oleh Presiden George W. Bush tentang mengapa itu tidak diajukan untuk sertifikasi ekonomi dikutip. Fakta bahwa China menandatanganinya juga disebutkan, dengan banyak pengecualian. Saat itu, China merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Pengecualiannya tidak terlihat sesuai dengan protokol.

Periode komitmen pertama Protokol Kyoto akan berakhir pada 2012. Diskusi tentang periode berikutnya masih berlangsung. Peran Amerika Serikat dalam perjanjian berikutnya masih belum jelas.

Tentu saja, Amerika Serikat menyadari perlunya perubahan. Sementara Presiden Bush tidak berusaha untuk meratifikasi perjanjian tersebut, ia menjelaskan bahwa itu bukan karena kurangnya dukungan untuk prinsip-prinsip Protokol Kyoto.

Semua ini telah menentukan arah pencapaian lingkungan yang besar di antara negara-negara. Sebagai penghasil karbon dioksida terbesar, perjanjian antara Amerika Serikat dan China akan menguntungkan seluruh dunia. Kedua negara merupakan bagian dari Kemitraan Asia-Pasifik untuk Pembangunan Bersih dan Iklim.

Berita terbaru menyoroti kesepakatan antara Institut Teknik Elektro Akademi Ilmu Pengetahuan China (IEE) dan Laboratorium Energi Terbarukan Nasional AS (NREL). Ini adalah dua lembaga penelitian energi surya terbesar di dunia. Keduanya telah menandatangani nota kesepahaman atau nota kesepahaman.

Berdasarkan perjanjian ini, para ilmuwan China dan AS akan fokus pada baterai fotovoltaik (PV) dan pengujian komponen. Hal ini juga menegaskan bahwa penelitian dan pengembangan di bidang teknologi akan dipertukarkan. Hal ini memungkinkan untuk komunikasi yang lebih cepat dan lebih efektif antara kelompok penelitian.

Wakil Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan China, Jiang Mianheng, mengatakan kesepakatan itu merupakan kemajuan besar yang dibuat antara kedua institut, dan memiliki harapan tinggi untuk pengembangan energi surya. Situs web NREL mencatat bahwa MoU memperluas kerja sama antara ekonomi terbesar dunia dan konsumen energi. Peristiwa semacam itu adalah isyarat kecil dalam gerakan besar yang menentukan iklim perubahan politik dan material.